Daerah

Direktur Kampung Tembakau : Petani Tembakau Madura Jangan Pasrah, Harga Harus Adil!

areajatim Diterbitkan 08:19
Direktur Kampung Tembakau Fathorrahman
Ukuran Teks:

SUMENEP, Areajatim.com – Harga tembakau Madura pada musim panen 2026 kembali menjadi perhatian. Fluktuasi harga di tingkat petani menimbulkan kekhawatiran karena biaya produksi yang terus berjalan tidak selalu sebanding dengan harga jual.

Direktur Kampung Tembakau, Fathorrahman, turut menyuarakan kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan harga tembakau tidak boleh hanya dilihat dari tinggi atau rendahnya harga per kilogram, tetapi juga harus mempertimbangkan biaya produksi, kualitas, serapan pasar, serta posisi tawar petani.

Sebelumnya, Kampung Tembakau Sumenep, juga aktif mendorong penguatan komoditas tembakau melalui kegiatan pameran, kontes tembakau kering, dan forum petani.

Di sisi lain, persoalan stabilitas harga memang menjadi tantangan berulang dalam tata niaga tembakau Madura. Pada 2026, petani juga meminta pemerintah memperkuat pendampingan dan pengawasan terhadap proses pembelian agar petani memperoleh harga yang layak.

Karena itu, diperlukan tata niaga yang lebih transparan dan berpihak pada keberlanjutan petani. Tembakau Madura bukan sekadar komoditas, tetapi sumber penghidupan ribuan keluarga yang harus mendapat kepastian pasar dan harga yang adil.

Menurutnya, petani telah menanggung berbagai risiko sejak proses tanam, perawatan hingga panen. Karena itu, hasil produksi mereka harus mendapatkan kepastian pasar dan harga yang mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan yang layak.

“Harga tembakau jangan terus dibiarkan menjadi permainan pasar yang pada akhirnya petani selalu berada di posisi paling lemah. Petani sudah mengeluarkan modal besar, bekerja berbulan-bulan, tetapi ketika panen justru harus menghadapi harga yang tidak pasti. Ini tidak adil,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah tidak hanya hadir saat persoalan muncul, tetapi membangun tata niaga tembakau yang lebih transparan dan memberikan perlindungan terhadap petani.

“Petani tidak meminta harga yang tidak masuk akal. Mereka hanya ingin hasil jerih payahnya dihargai secara adil. Jangan sampai petani menanggung semua risiko, sementara keuntungan justru dinikmati di rantai perdagangan,” ujarnya.

Tinggalkan komentar