SUMENEP, Areajatim.com – Hasil Festival Musik Tong-Tong Sumenep 2026 menuai sorotan. Perbedaan antara rekapitulasi nilai yang beredar dengan pengumuman Juara Umum membuat peserta dan publik mempertanyakan mekanisme penilaian.
Dalam dokumen rekapitulasi penilaian dewan juri yang beredar, Angin Ribut tercatat meraih nilai tertinggi dengan 3.167 poin. Di posisi kedua terdapat Barong Ireng dengan 3.160 poin, sedangkan Baladewa berada di posisi ketiga dengan 3.157 poin.
Namun, dalam pengumuman resmi, Baladewa justru ditetapkan sebagai Juara Umum.
Perbedaan tersebut kemudian memicu berbagai komentar di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan dasar penetapan pemenang hingga profesionalitas dewan juri.
“Seriusan nanya kalo juara umum menangnya dr mananya,” tulis akun @wd.eiynezs.
Komentar lain menyebut hasil tersebut tidak sesuai dengan rekap penilaian yang beredar.
“Aneh gak sesuai sama yang di penilaian terbanyak,” tulis akun @ANAK_LANANG.
Kekecewaan juga datang dari peserta. Salah seorang perwakilan peserta berinisial FP bahkan menilai polemik tersebut dapat menggerus kepercayaan peserta terhadap festival.
“Kalau saya simak, festival ini sudah kehilangan marwahnya. Tahun depan kami tidak akan ikut,” ujarnya.
Jangan Sampai Coreng Nama Pemerintah Daerah
Publik kini menunggu penjelasan resmi dari Disbudporapar Sumenep dan dewan juri terkait dasar penetapan Baladewa sebagai Juara Umum.
Bisa saja terdapat sistem pembobotan atau kriteria khusus yang membuat hasil akhir berbeda dengan akumulasi nilai. Namun, tanpa penjelasan terbuka, perbedaan tersebut sangat mudah menimbulkan kecurigaan dan polemik.
Karena itu, Disbudporapar diminta tidak tinggal diam. Jangan sampai persoalan teknis dalam sebuah festival budaya justru berkembang menjadi persoalan citra pemerintah daerah.
Terlebih, Festival Tong-Tong merupakan agenda yang membawa nama Kabupaten Sumenep. Jika polemik ini tidak segera dijelaskan, bukan hanya panitia dan dewan juri yang dipertanyakan, tetapi citra Pemerintah Kabupaten Sumenep dan kepemimpinan Bupati juga berpotensi ikut terseret.
Jangan sampai sebuah festival yang seharusnya mengangkat marwah budaya Sumenep justru berubah menjadi panggung kontroversi yang mencoreng nama daerah.
Yang dibutuhkan publik sebenarnya sederhana: buka mekanisme penilaian, jelaskan dasar penetapan juara, dan jangan biarkan tanda tanya berkembang menjadi prasangka.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan secara utuh perbedaan antara rekapitulasi nilai dan penetapan Juara Umum tersebut.