JOMBANG, Areajatim.com – Dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendadak memanas setelah Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), melontarkan sindiran tajam yang memicu kontroversi. Dalam potongan video yang viral di akun media sosial Kata Rakyat, Cak Imin secara terbuka menuding bahwa kemunduran NU saat ini disebabkan oleh gaya kepemimpinan figur berlatar belakang Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
“NU kita harus akui jujur terpuruk, kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi, untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu. Yang jelas, terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira gitulah,” tegas Cak Imin dalam rekaman tersebut.
Pernyataan menohok ini langsung memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Direktur Pusat Kajian Strategis Indonesia (PKSI), Shohebul Umam, menilai sindiran tersebut bukan sekadar kelakar biasa, melainkan bentuk simplifikasi sosiologis yang sangat dangkal dan berbahaya bagi keutuhan warga Nahdliyin.
“Pernyataan yang membenturkan performa kepemimpinan PBNU dengan afiliasi organisasi kemahasiswaan, dalam hal ini PMII dan HMI, merupakan bentuk simplifikasi sosiologis yang sangat problematis. Secara akademis, menilai tata kelola organisasi keagamaan sebesar NU hanya melalui kacamata alumni PMII vs alumni HMI adalah tindakan mereduksi kompleksitas tantangan institusional menjadi sekadar sentimen primordial kelompok (esprit de corps). Sangat disayangkan ini keluar dari mulut seorang Cak Imin,” ujar Umam.
Umam membongkar bahaya laten di balik manuver narasi yang dilemparkan pimpinan partai politik tersebut. Menurutnya, lemparan isu ini berpotensi memecah belah dan menciptakan adu domba kultural di akar rumput.
“Tentu, statemen Cak Imin itu adalah eksploitasi identitas. Menyeret narasi persaingan antar-organisasi mahasiswa ke dalam wacana tata kelola PBNU berpotensi menciptakan gesekan yang tidak perlu (adu domba kultural) antara elemen-elemen gerakan Islam modernis dan tradisionalis yang selama ini berkelindan di tubuh Nahdliyin,” papar Umam.
Lebih jauh, Umam mendesak elite politik untuk tidak mengerdilkan NU demi kepentingan pragmatis semata melalui narasi sektarian yang menyesatkan.
“Setiap kader gerakan, baik PMII maupun HMI, memiliki keberagaman latar belakang, kapasitas intelektual, dan visi kepemimpinan. Jadi, statemen Cak Imin yang menilai bahwa keterpurukan atau keberhasilan sebuah lembaga ditentukan secara kausal oleh atribut alumni adalah kekeliruan logika, yang seharusnya tidak disampaikan oleh seorang Ketum Partai sekelas PKB. Jadi, jangan rusak NU dengan isu-isu primordial,” cetus Umam menegaskan.
Pernyataan Cak Imin kini menjadi bola panas. Sebagian kalangan berupaya mengabaikannya sebagai dinamika otokritik internal, namun pengamat dan publik secara kritis melacak adanya agenda politik dan narasi pemecah belah yang sengaja ditiupkan ke dalam tubuh PBNU.