SUMENEP, Areajatim.com – Bagi sebagian orang, kedai kopi mungkin hanya menjadi tempat untuk menikmati secangkir kopi sambil melepas penat. Namun, bagi kalangan santri dan alumni pesantren, secangkir kopi bisa menjadi awal dari sebuah percakapan panjang—tentang ilmu, kehidupan, masyarakat, hingga masa depan.
Nuansa itulah yang dapat ditemukan di Kancakona Kopi, Sumenep.
Kancakona bukan sekadar tempat menikmati kopi. Ia hadir sebagai ruang perjumpaan, tempat kawan lama bertemu, gagasan dipertukarkan, dan silaturahmi kembali dirajut dalam suasana yang santai.
Bagi santri, kultur semacam ini tentu tidak asing. Kehidupan pesantren telah lama mengenalkan tradisi ngaji, berdiskusi, bertukar pikiran, dan berkumpul dalam kesederhanaan. Bedanya, Kancakona menghadirkan tradisi tersebut dalam suasana kedai kopi yang lebih cair.
Slogannya, “Ngaji, Ngopi, Berbagi,” seakan merangkum karakter ruang tersebut.
Di tengah perkembangan gaya hidup anak muda yang semakin dinamis, keberadaan ruang seperti Kancakona menjadi menarik. Nongkrong tidak harus selalu identik dengan aktivitas konsumtif. Secangkir kopi juga dapat menjadi medium untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, bahkan melahirkan kolaborasi.
Terlebih bagi santri dan alumni pesantren yang kini beraktivitas di berbagai bidang.
Ada yang menjadi akademisi, pengusaha, aktivis, jurnalis, birokrat, pekerja kreatif, hingga profesional. Mereka membutuhkan ruang untuk bertemu tanpa sekat formalitas. Kancakona dapat menjadi salah satu pilihan untuk itu.
Sebagai alumni Annuqayah, saya melihat kultur semacam ini memiliki kedekatan tersendiri.
Pesantren bukan hanya tempat seseorang belajar membaca kitab atau memahami ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren mengajarkan bagaimana membangun relasi, menghargai perbedaan pandangan, serta menempatkan ilmu dalam kehidupan sosial.
Karena itu, ngopi bagi santri tidak harus berhenti pada kopi.
Ia bisa menjadi ruang untuk membicarakan buku yang baru selesai dibaca, mendiskusikan persoalan masyarakat, merancang kegiatan komunitas, membangun usaha bersama, atau sekadar bernostalgia dengan kawan-kawan lama.
Di Kancakona, suasana semacam itu terasa lebih natural.
Tidak perlu meja rapat, jas, atau forum resmi untuk memulai sebuah percakapan. Cukup kopi, teman, dan gagasan yang ingin dibagikan.
Barangkali di situlah menariknya Kancakona.
Ia tidak menawarkan kemewahan sebagai daya tarik utama, melainkan pengalaman tentang bagaimana sebuah kedai kopi dapat menjadi ruang sosial.
Bagi para santri dan alumni pesantren di Sumenep, Kancakona bisa menjadi alternatif tempat untuk “pulang” sejenak kepada suasana kebersamaan—bertemu kawan lama, mengenal kawan baru, sembari tetap membawa tradisi intelektual pesantren ke ruang yang lebih terbuka.
Sebab pada akhirnya, budaya ngopi bukan hanya tentang apa yang tersaji di dalam cangkir.
Kadang, yang paling berharga justru adalah percakapan yang lahir setelahnya.