Lifestyle

Kenapa Anak Muda Sumenep Kini Lebih Suka Nongkrong Sambil Ngopi?

areajatim Diterbitkan 00:12
Suasana Warung Kopi, Dengan Segala Relasi dan Diskusinya.
Ukuran Teks:

Lifestyle, Areajatim.com – Secangkir kopi kini bukan sekadar minuman bagi sebagian anak muda di Sumenep. Di antara meja kecil, kursi, musik yang diputar pelan dan obrolan yang kadang berlangsung berjam-jam, kedai kopi telah berubah menjadi ruang bertemu, bekerja, berdiskusi hingga sekadar melepas penat.

Sore menjelang malam menjadi salah satu waktu ketika sejumlah tempat ngopi mulai dipenuhi anak muda. Ada yang datang berkelompok, ada yang hanya berdua dengan teman, sementara sebagian lainnya membawa laptop untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas.

Fenomena itu bukan sekadar kesan. Salah satu pengelola warung kopi di Sumenep pernah menyebut mayoritas konsumennya adalah anak muda. Jumlah pengunjung juga disebut tetap bertahan meski memasuki musim penghujan. Budaya nongkrong menjadi salah satu faktor yang membuat warung kopi tetap memiliki pasar.

Lantas, mengapa nongkrong sambil ngopi semakin dekat dengan kehidupan anak muda Sumenep?

Kopi Hanya Awal dari Sebuah Pertemuan

Bagi sebagian anak muda, alasan datang ke kedai kopi tidak selalu karena ingin menikmati rasa kopi.

Kopi bisa menjadi alasan sederhana untuk bertemu.

Seseorang mengajak temannya bertemu dengan kalimat, “Ngopi, yuk.” Dari ajakan sederhana itu, obrolan bisa melebar ke banyak hal. Mulai dari kuliah, pekerjaan, rencana usaha, organisasi, hubungan pertemanan hingga persoalan sehari-hari.

Karena itu, aktivitas ngopi sebenarnya lebih banyak berbicara tentang interaksi sosial daripada minuman yang berada di atas meja.

Kajian mengenai perkembangan kafe di Sumenep juga menggambarkan perubahan tersebut. Kafe tidak lagi hanya digunakan untuk menikmati makanan dan minuman, tetapi berkembang menjadi tempat berkumpul, berbicara, mengerjakan tugas, bekerja hingga mengabadikan momen untuk media sosial.

Mencari Tempat yang Nyaman, Bukan Sekadar Menu

Perubahan lain terlihat dari cara anak muda memilih tempat nongkrong.

Harga tetap menjadi pertimbangan, tetapi suasana juga semakin penting.

Tempat yang nyaman, tersedia ruang untuk berbincang, memiliki akses internet, pencahayaan yang baik atau sekadar memiliki sudut yang menarik untuk berfoto dapat menjadi alasan seseorang memilih sebuah kedai.

Di Sumenep, pilihan tempat ngopi pun semakin beragam. Penelusuran terhadap tempat-tempat ngopi di wilayah ini menunjukkan munculnya berbagai konsep, mulai dari ruang indoor-outdoor, suasana rumahan, rooftop, konsep vintage hingga tempat yang menyediakan ruang untuk bekerja atau membaca.

Artinya, persaingan tempat ngopi tidak lagi semata-mata soal siapa yang menyajikan kopi paling enak.

Pengalaman menjadi bagian dari produk yang ditawarkan.

Dari Nongkrong hingga Mengerjakan Pekerjaan

Ada pula perubahan menarik dalam kebiasaan nongkrong anak muda.

Kedai kopi kini bisa menjadi ruang kerja alternatif.

Laptop diletakkan di atas meja. Kopi berada di sampingnya. Satu orang mengerjakan tugas, sementara teman di sebelahnya berdiskusi.

Fenomena work from cafe bahkan mulai menjadi bagian dari konsep sejumlah kafe di Sumenep. Ada pengunjung yang datang untuk bertemu kolega, menyelesaikan pekerjaan, membuat laporan atau sekadar mencari suasana berbeda dari rumah dan kantor.

Bagi sebagian anak muda, suasana seperti itu dianggap lebih fleksibel.

Tidak terlalu formal seperti kantor, tetapi juga tidak terlalu santai seperti berada di rumah.

Media Sosial Ikut Mengubah Budaya Ngopi

Tidak bisa dipungkiri, media sosial ikut memberikan warna baru terhadap budaya nongkrong.

Tempat yang memiliki desain menarik lebih mudah menjadi bahan unggahan. Foto kopi, makanan, interior, pemandangan hingga aktivitas bersama teman bisa masuk ke Instagram maupun TikTok.

Kajian tentang perkembangan kafe di Sumenep juga mencatat peran Instagram, TikTok dan Facebook dalam membantu promosi kafe. Pemilik usaha berlomba menghadirkan konsep dan sudut yang menarik bagi generasi muda yang gemar membagikan pengalaman mereka di media sosial.

Di titik ini, nongkrong bukan lagi hanya pengalaman yang dinikmati secara langsung.

Ada pengalaman yang kemudian dibagikan kepada orang lain melalui layar ponsel.

Kopi, Ruang Sosial dan Gaya Hidup Baru

Menariknya, tren tersebut tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa.

Anak muda yang sudah bekerja juga memanfaatkan kedai kopi sebagai tempat bertemu kolega, beristirahat setelah bekerja atau mencari suasana baru.

Kondisi itu menunjukkan bahwa budaya ngopi di Sumenep telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.

Kopi memang tetap menjadi pusat perhatian. Namun yang membuat seseorang bertahan berjam-jam di sebuah kedai sering kali bukan hanya secangkir kopi.

Ada percakapan yang ingin diselesaikan.

Ada pekerjaan yang ingin dikerjakan.

Ada teman yang ingin ditemui.

Atau mungkin hanya ada kebutuhan sederhana untuk keluar rumah dan mencari suasana baru.

Tidak Harus Mahal

Menariknya, budaya nongkrong di Sumenep juga memiliki banyak pilihan dari sisi harga.

Sejumlah kedai kopi lokal menawarkan minuman dan makanan dengan rentang harga yang relatif terjangkau. Data tempat usaha yang tersedia saat ini juga menunjukkan keberadaan kedai kopi dengan kisaran harga mulai dari belasan ribu rupiah hingga kelas yang lebih tinggi.

Karena itu, nongkrong tidak selalu identik dengan menghabiskan banyak uang.

Bagi sebagian anak muda, satu gelas kopi dan makanan ringan sudah cukup untuk menjadi teman berbincang selama beberapa jam.

Pada akhirnya, yang dicari bukan hanya kopinya.

Ketika Ngopi Menjadi Bagian dari Kehidupan Kota

Pertumbuhan tempat ngopi di Sumenep memperlihatkan perubahan kecil dalam wajah kehidupan perkotaan.

Kedai kopi menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk bertemu dan berinteraksi.

Di sana, ide usaha bisa muncul dari percakapan sederhana. Pertemanan bisa terjalin. Tugas kuliah diselesaikan. Pekerjaan dibawa keluar kantor. Bahkan komunitas bisa menemukan tempat untuk berkumpul.

Maka, ketika melihat sekelompok anak muda duduk berjam-jam di sebuah kedai sambil menikmati kopi, mungkin yang sedang mereka cari bukan sekadar minuman.

Mereka sedang mencari ruang untuk bertemu, berbicara, bekerja dan menjadi diri sendiri.

Dan di Sumenep, budaya itu perlahan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi mudanya.

 

Tinggalkan komentar