Daerah

Mengenang Tragedi Agustus 2025, BEM Madiun Gelar Refleksi dan Doa Bersama untuk Para Korban

areajatim Diterbitkan 09:41
Aliansi BEM Madiun menggelar aksi simbolis “Menirakati Indonesia, Seruan Pertiwi” di Alun-Alun Kota Madiun, Jumat (28/8/2026).
Ukuran Teks:

MADIUN, Areajatim.com – Tepat setahun setelah tragedi Agustus 2025 yang menewaskan Affan Kurniawan dan sejumlah korban lainnya, Aliansi BEM Madiun menggelar aksi simbolis bertajuk “Menirakati Indonesia, Seruan Pertiwi” di Alun-Alun Kota Madiun, Jumat (28/8/2026).

Aksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengenang para korban sekaligus melakukan refleksi terhadap kondisi bangsa dan berbagai persoalan kemanusiaan yang masih berlangsung.

Sekitar 100 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Madiun turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka tergabung dalam Aliansi BEM Madiun yang terdiri dari mahasiswa UMMAD, UNMER Madiun, UBHM Madiun, PNM, hingga STAINU Madiun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan orasi kebangsaan, menggelar doa bersama dan tabur bunga, deklarasi, hingga aksi simbolis sebagai bentuk penghormatan kepada para korban tragedi Agustus 2025.

Setahun berlalu, mahasiswa menilai perjalanan waktu tidak semestinya menghapus ingatan terhadap mereka yang telah menjadi korban. Bagi Aliansi BEM Madiun, mengenang bukan sekadar melihat kembali sebuah peristiwa, melainkan menjadi bagian dari upaya menjaga nilai kemanusiaan dan mendorong bangsa untuk terus melakukan pembenahan.

Istilah “Menirakati Indonesia” dalam aksi tersebut dimaknai sebagai bentuk doa dan refleksi. Mahasiswa berharap Indonesia tetap diberi kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan sekaligus mampu menjaga ingatan terhadap mereka yang telah pergi.

Koordinator Aliansi BEM Madiun, Maikel Jeksen, mengatakan kehadiran mahasiswa dalam aksi tersebut bukan untuk memperkeruh situasi maupun mempertentangkan masyarakat dengan negara.

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat untuk menjaga ingatan kolektif, merawat kemanusiaan, menyampaikan aspirasi rakyat, serta ikut mengawal perjalanan bangsa.

“Setahun telah berlalu, tetapi kami tidak ingin kehilangan ingatan. Kami hadir karena mencintai Indonesia. Kami ingin memastikan mereka yang telah pergi tidak dilupakan dan setiap kehilangan menjadi pengingat bagi bangsa untuk terus berbenah,” ujar Maikel.

Tak berhenti pada kegiatan refleksi, Aliansi BEM Madiun juga melanjutkan agenda dengan penggalangan dana bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas yang ingin ditunjukkan mahasiswa. Mereka tidak hanya mengenang tragedi dan menyampaikan refleksi, tetapi juga berupaya menghadirkan kepedulian dalam bentuk nyata kepada masyarakat yang membutuhkan.

Melalui kegiatan itu, Aliansi BEM Madiun mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk tidak melupakan para korban, mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, serta terus merawat persatuan dan kesatuan Indonesia.

 

Tinggalkan komentar