Opini

Mengenang Pahlawan Muslim Madura: Dari Pejuang Kemerdekaan Menuju Generasi Pencetak Sejarah

Madun Diterbitkan 17:46
Dr. Imamuddin, akademisi di bidang Fiqh/Ushul Fiqh dan Sains Terapan. Foto: istimewa.
Ukuran Teks:

Penulis: Dr. Imamuddin, akademisi di bidang Fiqh/Ushul Fiqh dan Sains Terapan.

Opini, Areajatim.com – Madura tidak hanya dikenal sebagai tanah para ulama, pesantren, dan tradisi keislaman yang kokoh. Di balik itu, Madura juga melahirkan tokoh-tokoh yang memberi sumbangsih besar bagi perjalanan bangsa Indonesia lewat gagasan, pendidikan, perjuangan bersenjata, hingga pengabdian tanpa pamrih kepada Republik Indonesia.

Sayangnya, jejak perjuangan sebagian tokoh ini perlahan mulai memudar dari ingatan generasi masa kini. Maka, tepat di momen bangsa Indonesia bersiap merayakan 81 tahun kemerdekaan, mengenang kembali kiprah para pahlawan dan tokoh Muslim Madura menjadi penting. Bukan hanya sekadar menoleh ke masa lalu, melainkan juga bekal untuk melangkah mencetak sejarah baru yang gemilang. Ini adalah upaya menumbuhkan rasa bangga sekaligus membangkitkan semangat generasi Madura agar terus memberi sumbangsih kebaikan yang besar bagi Indonesia.

Jejak yang Layak Dikenang

Selain nama besar KH. Kholil Bangkalan, sebenarnya orang-orang Madura yang memiliki peran besar di kancah nasional sangat banyak. Salah satu nama yang patut disebut adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, putra Pamekasan yang ikut mewarnai pergerakan nasional. Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, Tabrani-lah yang gigih memperjuangkan gagasan penggunaan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa pemersatu bangsa. Sumbangsihnya membuktikan bahwa putra Madura telah ikut meletakkan fondasi persatuan itu, jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan.

Ada pula Abdul Halim Perdanakusuma, putra Sampang yang menjadi salah satu perintis Angkatan Udara Republik Indonesia. Berbekal pengalaman penerbangan yang ditempanya di negeri orang, ia pulang untuk mengabdikan seluruh kemampuannya bagi tanah air. Halim gugur pada 1947 saat menjalankan tugas, dan atas jasa-jasanya ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Menariknya, perjuangan itu ternyata juga mengalir dalam keluarganya. Abd. Rahim Pratalikrama, lahir di Sumenep pada 10 Juni 1898, adalah kakak kandung Abdul Halim Perdanakusuma. Jika sang adik dikenal lewat perjuangan bersenjata di udara, Abd. Rahim justru berkiprah di tahap yang tak kalah penting yaitu sebagai anggota BPUPKI, ia turut duduk dalam meja perumusan dasar-dasar negara, jauh sebelum kemerdekaan itu sendiri diperjuangkan lewat senjata.

Dua bersaudara asal Madura ini menjadi bukti bahwa sumbangsih untuk bangsa bisa hadir dalam berbagai bentuk dari ruang sidang hingga medan tempur.

Di ranah keagamaan dan perjuangan rakyat, nama K.H.R. As’ad Syamsul Arifin tak bisa dilewatkan. Meski lahir di Mekkah, beliau memiliki ikatan batin yang kuat dengan tradisi pesantren Madura dan kelak tumbuh menjadi salah satu ulama besar dalam jaringan pesantren Jawa-Madura. Perjalanan hidupnya menegaskan betapa besar peran ulama dan pesantren dalam menumbuhkan kesadaran keagamaan sekaligus semangat kebangsaan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Sementara itu, K.H. Amin Jakfar, ulama asal Pamekasan, adalah contoh nyata seorang kiai yang tak hanya berdoa dari balik mimbar, tetapi juga turun langsung ke medan juang. Ia pernah memimpin pasukan PETA pada masa pendudukan Jepang, dan setelah Proklamasi dikumandangkan, ia memimpin perjuangan BPRI di wilayah Madura. Di masa mempertahankan kemerdekaan itu, para ulama, santri, laskar Hizbullah, dan Sabilillah berjuang berdampingan dengan TNI dan rakyat, menyatu dalam satu tekad.

Dari kisah-kisah ini, tergambar jelas bahwa bagi banyak pejuang Muslim Madura, iman dan cinta tanah air bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru sebaliknya, nilai-nilai keagamaan, tradisi pesantren, keberanian, dan pengorbanan menyatu menjadi kekuatan utama perjuangan mereka.

Madura Harus Bangga, Bukan Pesimis

Sejarah ini semestinya menjadi sumber kebanggaan sekaligus kepercayaan diri bagi masyarakat Madura. Bangga di sini bukan berarti merasa lebih unggul dari daerah lain, melainkan menyadari bahwa Madura telah mempersembahkan putra-putra terbaiknya untuk Indonesia.

Tabrani menyumbangkan gagasan besar tentang bahasa persatuan, sedangkan Abd. Rahim ikut merumuskan dasar negara di meja sidang, Halim rela mengorbankan nyawanya demi kekuatan udara Republik Indonesia, dan jika para ulama serta santri mempertaruhkan keselamatan diri demi mempertahankan kemerdekaan.

Generasi Madura hari ini pun memikul tanggung jawab yang sama berupa memberikan yang terbaik bagi bangsa, dengan caranya masing-masing. Jangan sampai generasi sekarang hanya pandai mengenang jasa para pahlawan, tetapi lupa meneruskan api semangat mereka.

Dahulu, perjuangan berhadapan langsung dengan penjajahan. Kini, wujud perjuangan itu berubah bentuk: melawan kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan ilmu pengetahuan, kemalasan, korupsi, dan berbagai persoalan lain yang menghambat kemajuan bangsa.

Oleh karena itu, sejarah tidak boleh dibiarkan pudar begitu saja. Para pahlawan bukan sekadar nama yang terpahat di buku pelajaran, papan nama jalan, atau prasasti monumen. Mereka adalah pengingat abadi bahwa kemajuan Indonesia dibangun di atas pengorbanan manusia-manusia yang berani memberikan yang terbaik untuk bangsanya. Kini, tongkat estafet itu berada di tangan generasi muda.

Momentum 81 Tahun Kemerdekaan

Genap 81 tahun Indonesia merdeka, ini adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang telah kita wariskan untuk generasi setelah kita? Jika para pendahulu telah menulis sejarah dengan iman, ilmu, keberanian, dan pengorbanan, maka sudah selayaknya generasi Madura hari ini melanjutkan catatan itu dengan pendidikan, profesionalisme, integritas, kreativitas, dan prestasi nyata.

Mereka telah menoreh sejarah pada zamannya masing-masing. Kini, di usia kemerdekaan yang ke-81, saatnya generasi Madura menuliskan lembaran sejarah baru yang lebih gemilang untuk Indonesia.(*)

Tinggalkan komentar