Nasional

Nasaruddin Umar Dikabarkan Mundur dari Menag, Sinyal Serius Menuju Bursa Ketum PBNU

areajatim Diterbitkan 19:17
Menag Nasaruddin Umar dikabarkan Mundur Dari Jabatanya, Syarat Bursa Calon ketum PBNU
Ukuran Teks:

JAKARTA, Areajatim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu, 26 Agustus 2026. Langkah tersebut disebut berkaitan dengan kesiapannya memasuki kontestasi pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.

Informasi mengenai pengunduran diri Nasaruddin Umar mencuat sehari menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Berdasarkan informasi yang beredar, surat pengunduran diri Nasaruddin disebut telah disampaikan ke Istana.

Pihak Istana juga dikabarkan telah memberikan persetujuan terhadap langkah tersebut. Pengunduran diri itu disebut berkaitan dengan ketentuan internal PBNU yang mengharuskan calon ketua umum yang masih menduduki jabatan di pemerintahan untuk melepaskan jabatannya.

Jika kabar tersebut benar, keputusan Nasaruddin Umar bukan sekadar pergantian posisi di pemerintahan. Langkah tersebut dapat menjadi sinyal semakin seriusnya Nasaruddin memasuki arena kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Nasaruddin Umar lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Namanya dikenal luas sebagai ulama, akademisi sekaligus tokoh yang memiliki rekam jejak panjang dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.

Ia juga dikenal produktif melahirkan karya dan gagasan keislaman yang turut memperkaya diskursus Islam di Tanah Air.

Nasaruddin Umar dilantik sebagai Menteri Agama oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024. Sebelum masuk pemerintahan, kiprahnya di dunia keagamaan dan pendidikan telah membentuk reputasi yang cukup kuat.

Ia tercatat menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta sejak 2016 dan Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal sejak 2021.

Pengalaman Nasaruddin Umar juga tidak berhenti pada aktivitas keulamaan. Ia merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 2005.

Nasaruddin juga pernah menjadi Guru Besar Luar Biasa Universitas Indonesia pada periode 2006–2010.

Di pemerintahan, namanya bukan pendatang baru. Ia pernah dipercaya sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama pada 2006–2012, sebelum kemudian menduduki posisi Wakil Menteri Agama Republik Indonesia periode 2012–2014.

Sejumlah posisi strategis lain juga pernah diembannya, termasuk keterlibatan dalam Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sejak 2024 serta sebagai Anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Republik Indonesia.

Di lingkungan organisasi keimaman, Nasaruddin tercatat sebagai Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM) sejak 2019.

Dengan latar belakang sebagai ulama, akademisi dan birokrat senior, munculnya nama Nasaruddin Umar dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjadi perhatian tersendiri.

Pengalaman lintas bidang tersebut menjadi modal kuat apabila dirinya benar-benar maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Bila pengunduran diri dari jabatan Menteri Agama nantinya dikonfirmasi secara resmi, langkah tersebut dapat dibaca sebagai penanda bahwa Nasaruddin tidak lagi sekadar berada dalam radar kandidat, tetapi mulai mengambil langkah serius menuju pertarungan kepemimpinan PBNU.

Muktamar ke-35 NU di Jombang pun menjadi momentum penting bagi masa depan organisasi. Di tengah dinamika internal NU dan tantangan menjaga relevansi organisasi di tengah perubahan zaman, figur dengan pengalaman keagamaan, akademik dan pemerintahan seperti Nasaruddin Umar berpotensi menjadi salah satu nama yang paling diperhitungkan.

Kini, publik menanti kepastian resmi dari Istana maupun Nasaruddin Umar terkait kabar pengunduran dirinya sekaligus arah langkahnya menjelang Muktamar ke-35 NU.

 

Tinggalkan komentar