Nasional

Pandangan Adi Prayitno Atas Isu KDM Hijrah ke PSI dan Hadapi Prabowo di 2029 : Itu Hanya Rumor Politik

areajatim Diterbitkan 22:30
Pengamat politik Adi Prayitno Dan Iwan Dalam Perbincangan Mengenai Isu KDM Hijrah Ke PSI
Ukuran Teks:

JAKARTA, Areajatim.com – Wacana politik prihal Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 kembali mencuat. Kali ini, nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menjadi sorotan setelah beredar isu yang menyebut dirinya berpotensi meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Spekulasi tersebut bahkan dikaitkan dengan kemungkinan Dedi Mulyadi maju sebagai calon presiden dan berhadapan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Namun, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai isu tersebut tidak memiliki dasar kalkulasi politik yang kuat. Dalam kanal YouTube pribadinya, @adiprayitnoofficial, ia menyebut kabar mengenai perpindahan KDM ke PSI sebagai rumor yang tidak rasional jika dilihat dari peta politik saat ini.

“Soal kepindahan KDM ke PSI itu rumor, gosip, bahkan hoaks. Dari segi kalkulasi politis, tidak ada keuntungan logis bagi figur sekelas KDM yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi untuk pindah ke partai yang saat ini berada di luar parlemen,” ujar Adi Prayitno.

### Elektabilitas KDM Dinilai Jadi Modal Politik Gerindra

Menurut Adi, munculnya spekulasi mengenai kans Dedi Mulyadi menuju Pilpres 2029 merupakan hal yang wajar. Kepala daerah dengan tingkat popularitas dan elektabilitas tinggi memang kerap menjadi objek spekulasi politik nasional.

Ia mencontohkan sejumlah nama yang sebelumnya mengalami situasi serupa ketika masih menjabat sebagai gubernur, seperti Joko Widodo, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo.

Meski demikian, Adi menilai kurang tepat apabila Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto diposisikan sebagai dua figur yang sedang bersiap berhadapan.

“Sangat tidak masuk akal menghadap-hadapkan KDM dengan Prabowo. Keduanya berada dalam satu perahu politik yang sama. Tingginya elektabilitas KDM justru memperkuat daya tawar Partai Gerindra,” kata Adi.

Ia melihat popularitas Dedi Mulyadi di Jawa Barat justru dapat menjadi aset politik bagi Gerindra. Basis pemilih yang dimiliki KDM dinilai memiliki karakter berbeda sekaligus dapat melengkapi kekuatan elektoral Prabowo.

“Prabowo sangat kuat di segmen pemilih pemuda dan kelas menengah ke atas di perkotaan, sedangkan KDM memiliki akar rumput yang sangat solid di kelas menengah ke bawah. Ini kombinasi yang justru menguntungkan konsolidasi kekuasaan Gerindra untuk 2029,” tuturnya.

### KDM Berpotensi Jadi Cawapres Prabowo

Terkait peta politik menuju 2029, Adi menilai salah satu skenario yang memungkinkan bagi Dedi Mulyadi apabila dibawa ke panggung politik nasional adalah menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Alternatif lainnya, KDM dapat mengambil posisi sebagai salah satu figur penting dalam upaya memenangkan Prabowo untuk kembali memimpin pada periode berikutnya.

Adi juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan arah politik seseorang hanya berdasarkan simulasi survei atau wacana yang berkembang di ruang publik.

Menurutnya, berbagai narasi yang sengaja mempertemukan Dedi Mulyadi dengan Prabowo berpotensi menjadi bagian dari dinamika politik untuk mengganggu soliditas internal Gerindra.

“Munculnya narasi bahwa KDM akan berhadapan dengan Prabowo bisa dibaca sebagai upaya menggoda KDM agar keluar dari barisan atau bentuk strategi memecah belah soliditas Gerindra. Per hari ini, gestur politik KDM tetap konsisten dan istikamah tegak lurus bersama Prabowo serta fokus membangun Jawa Barat,” pungkas Adi.

 

Tinggalkan komentar