SUMENEP, Areajatim.com – Perkembangan teknologi yang semakin cepat tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan arah. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, mahasiswa dituntut mampu membaca perubahan zaman, aktif menggerakkan organisasi, sekaligus tetap menempatkan manusia sebagai pusat kepemimpinan.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Naghfir’s Institute, Dr. Naghfir, S.HI., S.H., M.Kn., C.PM., CH., CWC., C.HT., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura).
Dalam materi ke-4 bertajuk ‘Human Centered Leadership: Menempatkan Manusia sebagai Pusat Organisasi di Tengah Disrupsi Teknologi’, Dr. Naghfir mengajak mahasiswa memahami tantangan kepemimpinan generasi muda di tengah perubahan teknologi yang berlangsung semakin masif.
Menurutnya, teknologi pada dasarnya hanyalah sebuah instrumen. Arah perubahan tetap berada di tangan manusia yang memiliki karakter, kecerdasan, keberanian, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Mahasiswa harus peka terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Jangan sampai mahasiswa hanya menjadi penonton ketika perubahan terjadi di depan mata. Mahasiswa harus mampu membaca perubahan dan menentukan sikap,” kata Dr. Naghfir.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual muda. Karena itu, kehidupan kampus tidak semestinya hanya dimaknai sebagai ruang untuk mengejar prestasi akademik dan mendapatkan gelar.
Mahasiswa juga perlu berani masuk ke ruang organisasi dan mengambil peran sebagai penggerak. Menurut Dr. Naghfir, organisasi merupakan salah satu ruang penting untuk menempa mental kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, membangun kerja sama, hingga melatih keberanian dalam mengambil keputusan.
“Mahasiswa harus menjadi lokomotif organisasi. Jangan hanya menjadi penumpang. Jadilah orang yang mampu menggerakkan organisasi, melahirkan gagasan, dan mengajak orang lain bergerak menuju perubahan yang lebih baik,” ujarnya.
Mahasiswa Harus Cerdas Menyaring Informasi
Perubahan teknologi tidak hanya memengaruhi cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi.
Mahasiswa kini hidup dalam ekosistem digital yang nyaris tanpa batas. Berbagai informasi dapat diterima setiap saat melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Kondisi tersebut, kata Dr. Naghfir, harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi. Sebab, derasnya arus informasi tanpa kontrol dapat memengaruhi pola pikir dan membentuk perspektif yang keliru.
Ia pun mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan informasi negatif sebagai konsumsi utama setiap hari.
“Kurangi mengonsumsi berita yang negatif. Bukan berarti kita harus menutup mata terhadap persoalan yang terjadi, tetapi jangan sampai pikiran kita setiap hari dipenuhi informasi yang hanya membuat kita pesimis,” imbuhnya.
Menurutnya, mahasiswa justru perlu memperbanyak informasi yang bersifat edukatif, inspiratif, serta mampu meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri.
Dengan cara tersebut, teknologi dan ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk berkembang, bukan justru menjadi sumber kegelisahan.
“Gunakan teknologi untuk membangun diri. Cari informasi yang menambah wawasan, memperkuat kompetensi, dan membuka peluang. Jangan biarkan teknologi justru mengendalikan cara berpikir kita,” tegas Dr. Naghfir.
Kepemimpinan Harus Tetap Berpijak pada Manusia
Dalam konsep ‘Human Centered Leadership’, Dr. Naghfir menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, kekuasaan, maupun kemampuan memberikan instruksi.
Seorang pemimpin, menurutnya, harus mampu memahami manusia, membangun kepercayaan, menghargai perbedaan, sekaligus menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap individu berkembang.
Konsep tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan dalam sebuah organisasi, keberhasilan tetap sangat bergantung pada manusia yang mengoperasikan dan menentukan arah penggunaannya.
“Teknologi boleh berkembang luar biasa cepat, tetapi manusia tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi sekaligus tetap mampu memahami, menghargai, dan menggerakkan manusia,” jelasnya.
Dr. Naghfir berharap mahasiswa baru UNIBA Madura tidak menjadikan masa perkuliahan hanya sebagai perjalanan untuk memperoleh gelar akademik.
Lebih dari itu, kehidupan kampus diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun karakter, memperluas wawasan, mengasah kepemimpinan, serta mempersiapkan diri menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.