Daerah

220 Huffadz Dijadwalkan Ikuti Khataman Al-Qur’an di Rumah Khotmil Qur’an Naghfir’s Institute

areajatim Diterbitkan 00:11
Rumah Khotmil Qur’an Naghfir’s Institute menjadi lokasi yang dijadwalkan untuk kegiatan khataman Al-Qur’an bersama 220 huffadz dan huffadzah di Sumenep.
Ukuran Teks:

SUMENEP, Areajatim.com – Rumah Khotmil Qur’an Naghfir’s Institute dijadwalkan menjadi titik pusat berkumpulnya para penghafal Al-Qur’an dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep. Sebanyak 220 huffadz dan huffadzah direncanakan mengikuti agenda khataman Al-Qur’an yang akan digelar pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang digelar setiap malam Jumat Kliwon. Selain khataman Al-Qur’an, pertemuan para huffadz itu juga akan dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta pembacaan Sholawat Nariyah.

Kehadiran ratusan penghafal Al-Qur’an dalam satu majelis menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang terus dijaga salah satunya melalui Rumah Khotmil Qur’an Naghfir’s Institute.

Bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, Rumah Khotmil Qur’an tersebut diproyeksikan menjadi ruang silaturahmi bagi para huffadz sekaligus wadah untuk terus menghidupkan tradisi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an secara bersama-sama.

Berdasarkan informasi dalam poster kegiatan, agenda kali ini akan berlangsung mulai pukul 15.30 WIB di Perumahan Batuan, depan UNIBA, dengan titik pusat Rumah Bapak Naghfir. Kegiatan tersebut tercatat sebagai putaran ke-129, yang rencananya akan dihadiri langsung KH. Abdul Qodir Muhammad, dan melibatkan 67 titik majelis.

Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi para penghafal Al-Qur’an untuk kembali mempererat silaturahmi, memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan sholawat, sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dengan jumlah peserta yang mencapai 220 huffadz dan huffadzah, agenda ini sekaligus menunjukkan kuatnya tradisi majelis Al-Qur’an di tengah hiruk-pikuk masyarakat Sumenep.

Tentunya, kegiatan semacam ini bukan hanya prihal khataman. Ada nilai kebersamaan dan silaturahmi yang ikut dirawat, sehingga Al-Qur’an tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi terus hadir dan direalisasikam dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Tinggalkan komentar