Oleh: Moh. Fairuz Zamzami
Opini, Areajatim.com – Setiap Agustus datang, ruang-ruang publik kembali berubah warna. Umbul-umbul merah putih dipasang di sepanjang jalan, bendera berkibar di depan rumah, sementara berbagai perlombaan mulai memenuhi kampung-kampung. Di televisi, pidato tentang kemerdekaan kembali terdengar. Di lapangan, pekik “Merdeka!” kembali menggema.
Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah. Merayakan kemerdekaan adalah bagian dari ingatan kolektif bangsa.
Tetapi ada pertanyaan yang barangkali justru lebih penting untuk diajukan setiap kali 17 Agustus tiba: apa arti kemerdekaan bagi masyarakat yang masih harus berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita melihat keadaan sosial dan ekonomi masyarakat hari ini. Di tengah berbagai narasi mengenai pertumbuhan, pembangunan dan kemajuan, masih ada warga yang berhadapan dengan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, pelayanan publik yang belum merata, serta ketidakpastian mengenai masa depan.
Di titik inilah perayaan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada seremoni.
Kemerdekaan dan Persoalan Keseharian
Secara historis, Indonesia memang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Penjajahan asing telah berakhir dan bangsa Indonesia memiliki kedaulatan untuk menentukan arah kehidupannya sendiri.
Namun, kemerdekaan tidak seharusnya dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah.
Kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih panjang. Ia berkaitan dengan bagaimana negara memastikan warganya dapat hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, menikmati pelayanan publik dan menyampaikan pendapat tanpa dihantui rasa takut.
Sebab, apa arti kemerdekaan jika seseorang secara hukum bebas, tetapi secara ekonomi tidak memiliki ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri?
Apa arti kebebasan berbicara jika kritik terhadap kebijakan publik justru dianggap sebagai ancaman?
Dan apa makna pembangunan jika hasilnya tidak dirasakan secara adil oleh masyarakat yang berada paling bawah?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan bentuk ketidaksyukuran terhadap kemerdekaan. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari cara merawat kemerdekaan agar tidak kehilangan maknanya.
Kritik Tidak Selalu Berarti Membenci
Dalam demokrasi, kritik sering kali ditempatkan secara keliru. Mereka yang mempertanyakan kebijakan pemerintah mudah dianggap sebagai kelompok yang pesimistis, bahkan tidak mencintai negara.
Padahal, negara demokratis justru membutuhkan kritik.
Kritik diperlukan karena kekuasaan memiliki kecenderungan untuk melihat keberhasilannya sendiri secara berlebihan. Pemerintah dapat melihat angka pertumbuhan, pembangunan infrastruktur dan berbagai capaian administratif. Tetapi masyarakat memiliki pengalaman yang berbeda ketika berhadapan langsung dengan harga barang, pekerjaan, pendidikan dan pelayanan publik.
Di antara dua pandangan itulah negara semestinya hadir sebagai jembatan.
Karena itu, suara masyarakat tidak selalu harus dipahami sebagai perlawanan. Bisa jadi, ia adalah cara paling sederhana dari rakyat untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai.
Mereka yang turun ke jalan, menyampaikan kritik di ruang publik atau mempertanyakan kebijakan pemerintah belum tentu sedang memusuhi negara. Bisa jadi mereka justru sedang mengingatkan negara agar tidak terlalu jauh meninggalkan rakyatnya.
Demokrasi akan kehilangan maknanya apabila pemerintah hanya senang mendengar pujian dan menganggap kritik sebagai gangguan.
Ketika Narasi Elite Berbeda dengan Realitas Rakyat
Persoalan berikutnya adalah jarak antara narasi keberhasilan dan pengalaman masyarakat.
Di tingkat elite, pembangunan dapat terlihat sebagai deretan angka, proyek dan target. Tetapi bagi masyarakat, pembangunan sering kali diukur dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana: apakah hidup mereka menjadi lebih mudah?
Apakah pekerjaan semakin tersedia?
Apakah harga kebutuhan pokok dapat dijangkau?
Apakah sekolah dan fasilitas kesehatan dapat diakses dengan layak?
Apakah pelayanan pemerintah semakin cepat dan adil?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari sanalah ukuran keberhasilan negara seharusnya dimulai.
Sebab negara bukan hanya tentang gedung pemerintahan, proyek besar atau pidato pejabat. Negara pada akhirnya hadir dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.
Di meja makan.
Di ruang kelas.
Di tempat kerja.
Di kantor pelayanan publik.
Dan di ruang-ruang kecil tempat rakyat menentukan apakah mereka masih memiliki harapan terhadap masa depan.
Merdeka dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
Karena itu, peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan otokritik.
Bukan hanya bertanya seberapa banyak pembangunan yang telah dilakukan, tetapi juga bertanya siapa yang menikmati hasil pembangunan tersebut.
Bukan hanya menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melihat apakah pertumbuhan itu mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bukan hanya berbicara mengenai stabilitas, tetapi memastikan bahwa stabilitas tidak dibangun dengan cara membungkam suara yang berbeda.
Kemerdekaan akan menjadi istilah yang kehilangan makna apabila rakyat hanya diminta merayakannya, tetapi tidak diberi ruang untuk menyampaikan kegelisahannya.
Di sinilah pemerintah dan seluruh pemegang kekuasaan perlu memahami bahwa mendengar kritik bukan tanda kelemahan. Justru kemampuan mendengar kritik menunjukkan bahwa demokrasi masih bekerja.
Merdeka yang Membumi
Maka, ketika bendera merah putih kembali dikibarkan pada Agustus tahun ini, barangkali kita perlu memperluas cara memaknai kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan masa lalu. Kemerdekaan juga merupakan pekerjaan yang terus berlangsung: memastikan tidak ada warga negara yang merasa menjadi orang asing di tanah airnya sendiri.
Seremoni tetap penting. Perlombaan tetap boleh digelar. Panggung hiburan tetap dapat diselenggarakan.
Tetapi di balik semua itu, ada pekerjaan yang jauh lebih penting: menghadirkan keadilan, memperluas kesejahteraan, menjaga kebebasan dan memastikan suara rakyat tidak berhenti sebagai suara yang lewat di ruang publik.
Sebab pada akhirnya, ukuran paling sederhana dari sebuah kemerdekaan bukanlah seberapa meriah bangsa ini merayakan 17 Agustus.
Melainkan seberapa jauh rakyat dapat menjalani kehidupannya dengan layak, bebas dan bermartabat.
Kemerdekaan bukan tanda bahwa perjuangan telah selesai. Ia justru menjadi alasan mengapa perjuangan harus terus dilanjutkan.