Daerah

UB Dampingi Petani Talkandang Olah Limbah Lokal Jadi Pupuk Organik

areajatim Diterbitkan 21:47
Tim UB bersama petani Desa Talkandang saat pendampingan pembuatan pupuk organik berbahan limbah pertanian dan peternakan.
Ukuran Teks:

PROBOLINGGO, Areajatim.com – Universitas Brawijaya (UB) mendorong kemandirian petani Desa Talkandang, Kabupaten Probolinggo, melalui pendampingan produksi pupuk organik berbahan limbah pertanian dan peternakan.

Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB pada 2026 ini mengajak petani memanfaatkan potensi lokal sebagai alternatif penyediaan input pertanian.

Ketua tim pengabdian, Moh. Shadiqur Rahman, S.Pi., M.P., Ph.D., memimpin kegiatan yang melibatkan kelompok tani, Pemerintah Desa Talkandang, serta 14 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Program bertajuk “Penguatan Kemandirian Petani melalui Produksi dan Pemanfaatan Pupuk Organik di Desa Talkandang, Kabupaten Probolinggo” tersebut dilatarbelakangi oleh ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, meningkatnya biaya produksi, serta belum optimalnya pengolahan limbah pertanian dan peternakan.

Shadiqur menjelaskan, pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan pertanian yang lebih mandiri.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong petani agar mampu memanfaatkan potensi lokal, khususnya limbah pertanian dan peternakan, menjadi sesuatu yang bernilai guna. Harapannya, petani memiliki keterampilan untuk memproduksi pupuk organik secara mandiri,” Ucapanya

Dalam pelaksanaannya, petani diperkenalkan pada pemanfaatan kotoran ternak, jerami, sekam, dan daun kering sebagai bahan baku pupuk organik. Pendampingan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, serta praktik langsung pembuatan pupuk.

Petani bersama mahasiswa mempelajari tahapan penyiapan bahan, pencampuran dekomposer, pengaturan kelembapan, hingga penempatan bahan dalam sarana pengomposan. Penggunaan komposter dan dekomposer menjadi bagian dari penerapan teknologi tepat guna dalam kegiatan tersebut.

Menurut rancangan kegiatan, proses fermentasi dan pematangan pupuk diperkirakan berlangsung selama 14–21 hari. Namun, berdasarkan laporan kemajuan, bahan pupuk masih menjalani proses pematangan sehingga belum diaplikasikan ke lahan sawah.

“Pendampingan tidak berhenti pada proses pembuatan. Tahap berikutnya adalah memastikan pupuk mencapai tingkat kematangan yang memadai sebelum digunakan, kemudian melakukan pemantauan bersama petani untuk mengevaluasi pemanfaatannya,” terangnya

Kelompok tani terlibat dalam penyediaan bahan baku, praktik produksi, dan pemantauan proses pematangan. Pemerintah Desa Talkandang turut memfasilitasi koordinasi, sedangkan mahasiswa KKN membantu pendampingan lapangan, dokumentasi, dan pengumpulan data.

Setelah pupuk dinilai matang, tim pengabdian bersama petani berencana mengaplikasikannya pada lahan sawah. Pengamatan terhadap kondisi tanaman dan tanggapan petani akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan proses produksi maupun pemanfaatan pupuk.

Hingga tahap pelaporan kemajuan, dampak program terhadap hasil panen, kondisi tanah, dan pengurangan penggunaan pupuk kimia belum dapat dipastikan karena aplikasi di lahan sawah belum dilakukan.

Program yang didukung pendanaan Pengabdian Masyarakat Internal FBiPK UB tahun 2026 ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Ke depan, pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan kelompok tani dalam mengelola sarana pengomposan dan melanjutkan produksi pupuk organik secara mandiri.

Melalui pemanfaatan bahan baku lokal, program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi petani Talkandang untuk mengembangkan pertanian yang lebih mandiri sekaligus meningkatkan nilai guna limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Tinggalkan komentar